Selasa, 03 November 2015

Mengapa Chelsea belum memecat Mourinho

Mengapa Chelsea belum memecat Mourinho? 
Pengen tau yuuk kita baca bersama sama BLUES.
Wajah serius Mourinho saat Chelsea menyerah pada Liverpool, 31/10/2015. 
Menjelang pertemuan dengan Liverpool, Sabtu (31/10/2015), sejumlah media Inggris meramal nasib manajer Jose Mourinho terletak pada hasil laga di Stamford Bridge, London itu. Tapi ketika juara bertahan EPL itu menyerah 1-3 pada "Si Merah," Mourinho masih di kursinya.
Padahal, sehari kemudian (Minggu 1/11), beberapa media lapis kedua Inggris --di antaranya Metro-- melansir gosip manajer asal Portugal itu dipecat Chelsea. Tapi tak ada kabar itu di laman resmi klub London barat tersebut.
Situs tersebut hanya melansir pernyataan: "Hari yang sulit," untuk menggambarkan posisi 15 yang kini ditempati Chelsea. Kekalahan dari Liverpool adalah yang keenam di EPL setelah bermain 11 kali musim ini.
Sejak Chelsea dimiliki taipan asal Rusia Roman Abramovich pada 2003, delapan pelatih berbeda hadir di Stamford Bridge. Empat di antaranya dipecat di tengah musim, termasuk Mourinho pada 2007 selepas memberi dua gelar juara EPL beruntun.
Empat manajer pengganti kemudian berhasil memperbaiki posisi Chelsea. Bahkan pada 2012, manajer sementara (caretaker) Roberto Di Matteo sukses membawa Chelsea juara Piala FA dan Liga Champions --gelar pertama klub ini di ajang antarklub Eropa.
Dengan segala sejarah itu, maka menjadi masuk akal bahwa (seharusnya) Mourinho tak bertahan lama di kursi manajer pada era keduanya ini. Lalu mengapa manajer berusia 52 ini masih dipertahankan?
Pertama, para pemain dan suporter memberi dukungan penuh. Bahkan Sabtu lalu, para penonton di Stamford Bridge berulang kali menyebut "Mourinho" dan memasang spanduk dukungan. "Ini pesan penting bagi Abramovich," ujar komentator pertandingan di televisi waktu itu.
Situasi ini berbeda pada masa pertama Mourinho dulu. Para pendukung tak terkesan pada permainan hasil racikannya meski saat itu Chelsea hanya melorot tak lebih dari posisi tujuh klasemen. Sementara dengan situasi lebih runyam seperti pada musim ini, respon justru berbeda.
Bahkan dukungan suporter terlihat pada tiket pertandingan Liga Champions melawan Dynamo Kiev, Selasa (3/11), yang telah terjual habis. Padahal secara normal, suporter akan menjaga jarak setelah tim idola menderita kekalahan besar di kandang sendiri.
Kedua, direksi Chelsea masih memberi napas pada Mourinho. Tapi bukan berarti napas yang panjang. Menurut The Guardian, para direksi minta Mourinho segera memberi hasil positif. Salah satunya atas Kiev. Sementara The Mirror mengatakan nasib sebenarnya Mourinho ada di laga itu.
Mourinho (dua dari kiri) berdiskusi dengan tiga orang asistennya © Will Oliver /EPA
Ketiga, dukungan pada Mourinho juga disampaikan sejumlah tokoh. Antara lain eks pilar Liverpool Jamier Carragher melalui tulisannya di The Daily Mail mengatakan, Chelsea bakal semakin lemah bila memecat bekas pelatih Real Madrid, Inter Milan, dan FC Porto itu.
Mantan gelandang dan wakil kapten Chelsea, Frank Lampard, juga masih mempercayai kemampuan Mourinho memperbaiki situasi. Hal yang sama disampaikan mantan penyerang Chelsea, Gianfranco Zola. Dua pendapat itu dirangkum BBC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar